Kamis, 30 Sep 2021 07:04 PM
Hari itu, bahagia sekali menerima kabar ketika jurnalku diterima di ICMR, International Converence on Madrasah Reform, padahal jurnal itu adalah tesisku yang kubuat lebih sederhana. Tidak menyangka sama sekali hanya empat hari semenjak zoom aku harus segera mengumpulkan jurnalku ke panitia. Sebenarnya masih ada waktu seminggu, namun 2 hari terakhir harus kugunakan untuk mempersiapkan kegiatan bimtek calon instruktur tingkat provinsi. Alloh maha baik, setelah kegagalan dua kali mengikuti seleksi calon fasilitator, aku diluluskan dua kali juga sebagai penulis jurnal dan instruktur provinsi. Aku malu, bukan berarti ku tak bersyukur, mengingat begitu buruknya diriku.
Hari itu, aku bersiap pergi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan instruktur. Notiv whatsappku berbunyi. Ketika kubuka, masyaalloh lulus. Kebingungan segera menyergapku ketika kulihat waktu pelaksanaan hanya berselang satu hari setelah pelatihan instruktur. Ya Alloh, apa yang harus kukatakan pada suamiku. Kulihat raut wajahnya seakan menanyakan "Wa dari siapa?" Segera kudahului sebelum dia bertanya.
"Ini, nih Yah ada pemberitahuan. Jurnal ma2h ketrima" kataku. "Oh, ya syukur atuh kalo keterima".
Kebingungan semakin menyergapku. Aku tak bisa menyembunyikan kepanikan. Bodohnya aku.
"Ada apa sih mah, kok mondar mandir terus?" Tanya suamiku "Apa ada barang yang ketinggalan?" Tanyanya lagi "Hp, carger, awas jangan samapi lupa".
Aku harus segera menjelaskan. Waktu semakin sempit. Jadwal keretaku 2 jam lagi.
"Gini lho yah,mmm" Sambil kurapikan dudukku disampingnya.
"Jurnalku kan lolos. Nah ma2h harus ikut pelatihan untuk perbaikan jurnal itu"
" Ooh jadi pelatihan lagi? Kapan? Dimana" pertanyaannya memberondong seperti senapan yang memuntahkan peluru. Wajahnya seketika terhenyak, kaget dengan apa yang kukatakan .
"Di Tangerang Yah, tiga hari". Jawabku pelan. Tak berani kumengangkat wajah.
"Tuh kan, kataku juga apa? Mamah itu segala ikutan. Apa ngga cukup ikut yang apa itu, instrukturkan?". Segera kuberdiri memasang senyum yg paling manis "Yah, ini kan belum tentu, bisa jadi mamah ga ikutan, kayaknya ga ikutan deh. Pokoknya mamah ke Jakarta aja dulu yah. Ayah tenang aja. Ok, sayang".
Aku paham kekhawatirannya. Memang dia protektif terhadapku tapi aku tahu dia lakukan itu untuk melindungiku.
"Aah mamah orangnya nekad, gimana mamah aja" itu kata-kata yang paling aku tak suka. Seolah dia tidak mendukung apa yang kulakukan. Dia berlalu dihadapanku.
"Ikut aja Teh" kata Ibu yang kebetulan saat itu datang untuk melihat aku pergi ke Jakarta. "Teteh tahu yang terbaik buat Teteh, biar Neng mamah yang jaga" keteduhan matanya dapat menghilangkan kegalauanku saat itu. Neng, anak semata wayangku, gadis kecil cantik yang selalu menghiasi hari-hari kami. Kekuatanku bertambah ketika Bapak mengangguk sambil tersenyum seolah mengataka, "Pergi saja Nak, semua akan baik-baik saja".
Keretaku berangkat pukul 8 malam dari Stasiun Tasik. Hujan deras mengantarkan kepergian kami. Ya kami bertiga perwakilan dari Provinsi Jawa Barat tepatnya perwakilan dari Kab. Tasikmalaya. Sebelum keretaku berangkat kumita restu dari suamiku. Dia tersenyum sambil berkata" Mamah pasti ikut kan?" Aku hanya tersenyum, ya senyum paling manis. "Jaga diri. Jaga kesehatan" lanjutnya.
Perjalanan 8 jam dengan kereta ekonomi jurusan Surabaya- Jakarta sungguh sangat singkat. Keseruan obrolan kami dengan orang-orang hebat yang baru kukenal menghilangkan sedikit rasa kantukku.
Hari itu, perjalanan 4 hari pelatihan instruktur baru dimulai. Orang-orang hebat perwakilan tiap provinsi datang dari penjuru Indonesia. Pertemuannku dengan banyak orang baru menginspirasi. Banyak bekal yang akan kubawa pulang nanti. Aku merasa ada dalam habitatku, bersemangat, bahagia. Tak pernah kubayangkan aku berada diposisi saat ini. Ya ini impianku, cita-cita hidupku. Mengenal orang dengan karakter yang berbeda dari tiap daerah. Berkenalan dengan mereka, berbincang dengan penuh semangat seolah energiku tak pernah ada habisnya. Aku berkata pada diriku, wahai diri aku sangat bajagia ada disini. Wahai diri membaurlah jadi satu sehingga kita bisa menciptakan gelombang elektromagnetik yang pancarannya akan meluas pada orang-orang di sekelilingnya. Aura positif akan muncul dari diri dan menular kepada apapun itu yang ada di dekat kita.
Empat hari terasa singkat. Kebahagiaan tak dapat kubendung dengan segudang ilmu yang kudapat walau pada akhirnya yang terpilihlah yang akan menang. Ternyata bimtek tidak menjadikanku otomatis menjadi Instruktur Provinsi, ada satu tahap yang harus kulalui. Pengumpulan tugas dan evaluasi akhir. Itu adalah ikhtiarku, hasil adalah urusan-Nya. Akan kutunggu apapun hasilnya.
Kerinduan pada anak semata wayang dan suamiku tak membuat semangat meredup. Masih ada satu kegiatan yang harus diikuti. Ya kegiatan coaching clinic international converence on madrasah reform, aku bisa ada disini karena keisenganku mengirim jurnal. Ada kebanggaan terselip dihati ini karena hanya aku perwakilan dari Kabupaten Tasikmalaya. Aaah rasanya ini momen ternikmat merasakan sebuah kebanggaan. Bangga menjadi diriku, bangga pada pencapaianku. Alloh maha tahu kapan waktu yang tepat untukku, tak ada kata terlambat walau usiaku menjelang senja.
Hari itu, Selasa pukul 12 tepat aku menginjakkan kaki di Horison Grand Serpong, Tangerang. Lengang, hanya ada 2 orang resepsionis di balik meja dan satu orang satpam yang menyambutku di depan pintu seraya tersenyum dia membukakan pintu untukku.
Berdebar hati ini, ya lengang. Apakah ada kegiatan di hotel ini? Resepsionis menujukkan lift ketika kukatakan aku adalah peserta ICMR kementerian agama. Lift menuju lantai 1, tanda tanya dan rasa takut tetap membuntutiku. Aaah ini rasa tidak percaya diri pada kemampuanku. Pintu lift terbuka, tak ada lalu lalang peserta di sana. Kulihat kertas petunjuk arah bagi peserta kegiatan. (BERSAMBUNG)