Kamis, 10 November 2022

Berimajinasi dalam Aroma Karsa



Novel karya Dee Lestari ini bercerita tentang ambisi seorang perempuan pada sebuah bunga yang dianggap memiliki kekuatan besar yang mampu mengubah dunia. Bunga yang kehadirannya dianggap mustahil karena petunjuk untuk mencapai lokasi bunga tersebut berada di alam yang tidak mungkin dijamah oleh manusia biasa.

Kisah ini berawal dari seorang pemuda yang bernama Jati Wesi. Dia hidup di daerah pembuangan sampah Bantar Gebang sejak bayi. Sebagai seorang yatim piatu, dia diurus oleh Nurdin Suroso yang hanya dimanfaatkan untuk mengisi pundi-pundi rupiahnya. Jati dijuluki Si hidung tikus karena kemampuannya mencium bau lebih dari yang orang lain mampu. Kemampuannya itu dimanfaatkan oleh Nurdin alias Mbah untuk mencari barang-barang berharga disekitar tempat pembuangan sampah. Jati dipaksa untuk berhenti sekolah demi mencapai ambisi Nurdin. Jati melawan dan dari kejadian itu dia mengetahui bahwa dia masih memiliki seorang bapak yang merupakan narapidana. Anung Linglung adalah bapak Jati yg dihukum seumur hidup karena membunuh istrinya sendiri ketika Jati masih bayi. Anung sama sekali linglung hingga dia tidak tahu siapa dirinya.

Jati bekerja serabutan, dari mulai mengurus taman di perumahan mewah di Bekasi, bekerja di pabrik kompos, dan sebagai peracik parfum di toko attarwala milik Khalil Batarvi. Dari toko farfum inilah semua berawal ketika suatu sore Jati beserta Khalil ditangkap polisi karena telah memalsukan sebuah parfum keluaran perusahaan milik Raras Prayagung.

Pertemuan Jati dan putri tunggal Raras Prayagung, Tanaya Suma, yang memiliki kemampua penciuman yang sama dengan Jati membuka tabir rahasia latar belakang Jati.

Penggambaran yang disampaikan oleh Dewi Lestari dalam novel ini seolah mengajak pembaca pada petualangan di sebuah negeri dongeng. Rumah-rumah yang berada diatas pohon penanda penghuni nya adalah orang-orang sakti yang harus lompat dari rumah satu ke rumah yang lain menjadi penanda imajinasi kita diajak berkelana ke alam yang kita bayangkan ada di sekitar Gunung Lawu, gunung yang menjadi salah satu latar cerita ini. Akhir cerita menjadi sebuah kejutan besar yang disuguhkan oleh Dee membuat kita semakin yakin pada kemampuan Dee dalam memberikan kejutan- kejutan pada ceritanya. Namun terkadang ketidaktahuan kita pada budaya Jawa membuat kita harus membuka kembali catatan di buku geografi. 


Selasa, 25 Oktober 2022

Senja di Laut Gunung Kidul

 Masyaalloh, Allohu Akbar

Kata itulah yang terucap ketika pertama kali kumelihat indahnya bentang garis laut Gunung Kidul Yogyakarta. Rasanya 3 jam perjalanan yang Kami tempuh dari Kali urang serta rasa lelah karena belum beristirahat setelah menempuh perjalanan menggunakan kereta api dari Tasikmalaya selama 5 jam menuju stasiun Yogyakarta rasanya terbayarkan dengan keindahan pantai Gunung Kidul ini. Langit biru cerah serta deburan ombak yang dahsyat menjadi ciri khas pantai laut selatan tak menyurutkan kami untuk dapat menikmati keindahan pantai Gunung Kidul. Walaupun tersiar kabar sepanjang pesisir laut selatan Pulau Jawa sedang tidak bersahabat. Air laut pasang yang mengakibatkan banjir rob melanda hampir di semua pesisir Laut Selatan Pulau Jawa. Ya kami melihatnya dari atas tebing, ujung ombak seakan menjilat-jilat ingin sampai di atas tebing tempat kami menikmati keindahan pantai  yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia ini. 

Salah satu tempat wisata yang instagramable yang kami kunjungi jauh dari hiruk pikuk perkotaan bahkan menjadi buruan orang kota yaitu objek wisata Heha Ocean View. Ya kami berdelapan, Ibu-ibu kompleks yang ingin berwisata, melepas penat dari keseharian kami sebagai ibu rumah tangga sengaja memilih akhir pekan agar pekerjaan rumah bisa ditangani oleh suami. Maafkan kami ya Pak, dua hari kok dari 365 hari di tahun ini.  

Betapa bahagianya kami, seolah tak memiliki beban pikiran keseharian mengurus rumah tangga. Anak-anak di rumah pun sepertinya paham ibu mereka memerlukan waktu untuk berlibur bersama teman-temannya, me time, istilah kekiniannya.

Terdapat dua tempat wisata baru yang menyuguhkan panorama alam Gunung Kidul, Heha Ocean View dan Heha Sky View. Dari namanya saja sudah terlihat bahwa Heha Ocean View menyuguhkan keindahan panorama laut. Walaupun sulit untuk sampai di Heha Ocean View, namun tak pernah gagal menyuguhkan keindahan. Itulah yang kami alami, panorama laut yang indah yang dinikmati dari atas bukit serta terdapat berbagai spot foto yang menarik. Salah satu spot foto terfavorit adalah Santorini yang mengadopsi bangunan yang berada di Santorini, Spanyol. Bersiap-siaplah untuk mengantri bila datang di waktu libur. Tak kami lewatkan berfoto bersama, selfie di setiap spot foto yang tentunya tidak terlalu lama mengantri.

Hanya dengan mengeluarkan uang dari Rp 10.000-20.000 kita bisa berfoto di spot yang sangat menarik dengan latar laut lepas. Namun bersiaplah perjalanan menuju area ini harus di tempuh dengan berjalan kaki. Walau seperti itu pengelola menyediakan kendaraan menuju area utama dan tentunya gratis. Bila tak ingin berjalan kaki dari tempat parkir terdapat ojeg yang akan mengantarkan sampai loket. 

Kami tiba sekitar pukul 12 siang, saat cuaca sedang panas-panasnya. Tak ayal membuat kami mencari tempat untuk berteduh karena kami datang di waktu yang tidak tepat. Sebuah resto di atas bukit batu menjadi tempat kami menikmati makan siang dan menunggu matahari tidak terlalu panas. sebuah resto yang bersebelahan dengan Heha Ocean View menyajikan menu yang cukup variatif. Menu utamanya adalah nasi goreng dengan varian rasa dan topingnya. 

Matahari sudah agak teduh di pukul 14.30 kami langsung menuju bukit Heha Ocean View. Dengan berjalan kaki kami menaiki dan menuruni jalan karena kontur jalan yang naik turun. Rasa kagum dan ucapan syukur tak henti kami panjatkan karena pemandangan yang begitu indah. Samudera Hindia yang terbentang luas seakan di sanalah ujung dunia. Biru laut, deburan ombak, serta birunya langit berbaur dalam sebuah simfoni alam maha agung ciptaan Sang Maha Kuasa Alloh SWT. Matahari di senja hari menambah syahdu suasana, langit jingga dan hembusan angin laut sore menjadi tanda perpisahan kami dengan bukit batu pesisir laut pantai selatan.




 

Minggu, 23 Oktober 2022

Mimpi

 Kamis, 30 Sep 2021 07:04 PM


Hari itu, bahagia sekali menerima kabar ketika jurnalku diterima di ICMR, International Converence on Madrasah Reform, padahal jurnal itu adalah tesisku yang kubuat lebih sederhana. Tidak menyangka sama sekali hanya empat hari semenjak zoom aku harus segera mengumpulkan jurnalku ke panitia. Sebenarnya masih ada waktu seminggu, namun 2 hari terakhir harus kugunakan untuk mempersiapkan kegiatan bimtek calon instruktur tingkat provinsi. Alloh maha baik, setelah kegagalan dua kali mengikuti seleksi calon fasilitator, aku diluluskan dua kali juga sebagai penulis jurnal dan instruktur provinsi. Aku malu, bukan berarti ku tak bersyukur, mengingat begitu buruknya diriku.

Hari itu, aku bersiap pergi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan instruktur. Notiv whatsappku berbunyi. Ketika kubuka, masyaalloh lulus. Kebingungan segera menyergapku ketika kulihat waktu pelaksanaan hanya berselang satu hari setelah pelatihan instruktur. Ya Alloh, apa yang harus kukatakan pada suamiku. Kulihat raut wajahnya seakan menanyakan "Wa dari siapa?" Segera kudahului sebelum dia bertanya.

"Ini, nih Yah ada pemberitahuan. Jurnal ma2h ketrima" kataku. "Oh, ya syukur atuh kalo keterima".

Kebingungan semakin menyergapku. Aku tak bisa menyembunyikan kepanikan. Bodohnya aku. 

"Ada apa sih mah, kok mondar mandir terus?" Tanya suamiku "Apa ada barang yang ketinggalan?" Tanyanya lagi "Hp, carger, awas jangan samapi lupa".

Aku harus segera menjelaskan. Waktu semakin sempit. Jadwal keretaku 2 jam lagi.

"Gini lho yah,mmm" Sambil kurapikan dudukku disampingnya.

"Jurnalku kan lolos. Nah ma2h harus ikut pelatihan untuk perbaikan jurnal itu"

" Ooh jadi pelatihan lagi? Kapan? Dimana" pertanyaannya memberondong seperti senapan yang memuntahkan peluru. Wajahnya seketika terhenyak, kaget dengan apa yang kukatakan .

"Di Tangerang Yah, tiga hari". Jawabku pelan. Tak berani kumengangkat wajah.

"Tuh kan, kataku juga apa? Mamah itu segala ikutan. Apa ngga cukup ikut yang apa itu, instrukturkan?". Segera kuberdiri memasang senyum yg paling manis "Yah, ini kan belum tentu, bisa jadi mamah ga ikutan, kayaknya ga ikutan deh. Pokoknya mamah ke Jakarta aja dulu yah. Ayah tenang aja. Ok, sayang".

Aku paham kekhawatirannya. Memang dia protektif terhadapku tapi aku tahu dia lakukan itu untuk melindungiku.

"Aah mamah orangnya nekad, gimana mamah aja" itu kata-kata yang paling aku tak suka. Seolah dia tidak mendukung apa yang kulakukan. Dia berlalu dihadapanku.

"Ikut aja Teh" kata Ibu yang kebetulan saat itu datang untuk melihat aku pergi ke Jakarta. "Teteh tahu yang terbaik buat Teteh, biar Neng mamah yang jaga" keteduhan matanya dapat menghilangkan kegalauanku saat itu. Neng, anak semata wayangku, gadis kecil cantik yang selalu menghiasi hari-hari kami. Kekuatanku bertambah ketika Bapak mengangguk sambil tersenyum seolah mengataka, "Pergi saja Nak, semua akan baik-baik saja".

Keretaku berangkat pukul 8 malam dari Stasiun Tasik. Hujan deras mengantarkan kepergian kami. Ya kami bertiga perwakilan dari Provinsi Jawa Barat tepatnya perwakilan dari Kab. Tasikmalaya. Sebelum keretaku berangkat kumita restu dari suamiku. Dia tersenyum sambil berkata" Mamah pasti ikut kan?" Aku hanya tersenyum, ya senyum paling manis. "Jaga diri. Jaga kesehatan" lanjutnya.

Perjalanan 8 jam dengan kereta ekonomi jurusan Surabaya- Jakarta sungguh sangat singkat. Keseruan obrolan kami dengan orang-orang hebat yang baru kukenal menghilangkan sedikit rasa kantukku. 

Hari itu, perjalanan 4 hari pelatihan instruktur baru dimulai. Orang-orang hebat perwakilan tiap provinsi datang dari penjuru Indonesia. Pertemuannku dengan banyak orang baru menginspirasi. Banyak bekal yang akan kubawa pulang nanti. Aku merasa ada dalam habitatku, bersemangat, bahagia. Tak pernah kubayangkan aku berada diposisi saat ini. Ya ini impianku, cita-cita hidupku. Mengenal orang dengan karakter yang berbeda dari tiap daerah. Berkenalan dengan mereka, berbincang dengan penuh semangat seolah energiku tak pernah ada habisnya. Aku berkata pada diriku, wahai diri aku sangat bajagia ada disini. Wahai diri membaurlah jadi satu sehingga kita bisa menciptakan gelombang elektromagnetik yang pancarannya akan meluas pada orang-orang di sekelilingnya. Aura positif akan muncul dari diri dan menular kepada apapun itu yang ada di dekat kita.

Empat hari terasa singkat. Kebahagiaan tak dapat kubendung dengan segudang ilmu yang kudapat walau pada akhirnya yang terpilihlah yang akan menang. Ternyata bimtek tidak menjadikanku otomatis menjadi Instruktur Provinsi, ada satu tahap yang harus kulalui. Pengumpulan tugas dan evaluasi akhir. Itu adalah ikhtiarku, hasil adalah urusan-Nya. Akan kutunggu apapun hasilnya.

Kerinduan pada anak semata wayang dan suamiku tak membuat semangat meredup. Masih ada satu kegiatan yang harus diikuti. Ya kegiatan coaching clinic international converence on madrasah reform, aku bisa ada disini karena keisenganku mengirim jurnal. Ada kebanggaan terselip dihati ini karena hanya aku perwakilan dari Kabupaten Tasikmalaya. Aaah rasanya ini momen ternikmat merasakan sebuah kebanggaan. Bangga menjadi diriku, bangga pada pencapaianku. Alloh maha tahu kapan waktu yang tepat untukku, tak ada kata terlambat walau usiaku menjelang senja. 

Hari itu, Selasa pukul 12 tepat aku menginjakkan kaki di Horison Grand Serpong, Tangerang. Lengang, hanya ada 2 orang resepsionis di balik meja dan satu orang satpam yang menyambutku di depan pintu seraya tersenyum dia membukakan pintu untukku.

Berdebar hati ini, ya lengang. Apakah ada kegiatan di hotel ini? Resepsionis menujukkan lift ketika kukatakan aku adalah peserta ICMR kementerian agama. Lift menuju lantai 1, tanda tanya dan rasa takut tetap membuntutiku. Aaah ini rasa tidak percaya diri pada kemampuanku. Pintu lift terbuka, tak ada lalu lalang peserta di sana. Kulihat kertas petunjuk arah bagi peserta kegiatan. (BERSAMBUNG)

Bermain Perosotan Pelangi di Garut

Garut di kenal sebagai kota penghasil dodol yang kelezatannya sudah tak diragukan lagi. Bahkan bila kita memakan penganan ini, kota Garut langsung terbersit di benak kita. Selain terkenal akan penganan dodol, Garut dikenal sebagai kota dengan berbagai tempat wisata yang sangat menarik. Letaknya yang sangat strategis, satu jam dari Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat dan kurang lebih 3 jam dari ibu kota Jakarta, membuat kota Garut menjadi tujuan wisata yang menjadi incaran wisatawan lokal maupun wisatawa asing. 
Salah satu objek wisata yang sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal khususnya adalah Antapura De Djati yang berlokasi di kecamatan Limbangan. Konsep wisata yang mengusung nuansa alam pesawahan dengan terasering yang menyerupai Ubud, Bali, menjadi daya tarik utama objek wisata ini. 
Menyajikan lokasi yang instagramable dengan pemandangan gunung dan sawah menjadikan salah satu spot foto yang menarik. 



Selain spot foto yang menarik, terdapat wahana yang bisa dicoba untuk menguji nyali. salah satu wahana terbaru di Antapura De Djati ini adalah rainbow slider atau seluncuran pelangi. Panjang perosotan ini kurang lebih 30 meter dengan warna-warni pelangi yang sangat menarik. Kita tidak usah jauh-jauh ke Baturaden untuk menikmati seluncuran pelangi ini. Karena seluncuran pelangi ini sangat menarik, tidak perlu basah-basahan bisa langsung meluncur tanpa harus berganti baju karena biasanya seluncuran terdapat di waterboom atau taman air. 
Cukup membayar Rp 15.000 untuk satu kali luncur, Rp 30.000 untuk tiga kali meluncur, atau naik sepuasnya dengan membayar Rp 60.000 kita bisa menikmati seluncuran pelangi ini. Tak hanya anak-anak, dewasa pun bisa menikmatinya. Namun kita harus berhati-hati ya, biasanya sehabis bermain wahana ini kita merasa pusing. Sebaiknya duduk dulu jangan langsung jalan karena posisi permainan yang berputar-putar membuat kita merasa pusing. Bila langsung berdiri apalagi sambil menuruni tangga, berpeluang besar terjatuh.



Bila merasa lapar setelah puas berfoto-foto dan menikmati wahana di Antapura De Djati ini, kita bisa menikmati kuliner khas Cibiuk yang terkenal dengan sambalnya. Terdapat menu masakan khas Sunda seperti nasi liwet komplit atau timbel komplit di Cibiuk Resto. Kalaupun hanya ingin bersantai sambil minum kopi dan menikmati camilan, Aksen Coffe tersedia dengan berbagai variasi menu minuman dan makanan ringan.



Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Garut tanpa menikmati kelezatan dodol dan kerupuk kulit. Antapura De Djati pun telah menyediakan tempat oleh-oleh khas Garut ini. Dengan harga yang relatif murah kita bisa membawa oleh-oleh untuk kerabat ataupun saudara di rumah.

Popular Post

Berimajinasi dalam Aroma Karsa

Novel karya Dee Lestari ini bercerita tentang ambisi seorang perempuan pada sebuah bunga yang dianggap memiliki kekuatan besar yang mampu me...